Lampu Api

   


     Lampu merah jadi hal yang paling dibenci oleh Nobi. Setiap ia berhenti di lampu merah persimpangan, cahaya merah yang menyala bak pemantik "Api" yang menyalakan kenangan yang telah membeku dalam diri Nobi. Kadang ia memilih jalan kecil jika bepergian, walaupun akhirnya pasti akan bertemu lampu merah.

    Walaupun kata orang tidak ada "Api" yang abadi di dunia ini. Bagaimana dengan "Api" lama yang menghangatkan namun belum sempat menjadi bara? Bagaimana dengan "Api" yang baru? Adakah yang senantiasa membuat kehangatan, kenyamanan, suara-suara dari "Api" Tersebut? Tidak ada yang tau. Hanyalah waktu dan sedikit eksistensi yang bisa menjawabnya. 

    Terkadang suhunya sangat tinggi hingga membakar wajah dan memaksa air mata keluar. Terkadang juga suhunya tidak terlalu tinggi atau bisa disebut pas, cukup untuk menghangatkan dirinya, hingga Nobi merasa nyaman. Namun Nobi sering terlupa akan sifat-sifat itu. 

     "Api" tersebut bersifat sangat tidak stabil, semuanya akan seperti itu. Nobi pasti akan terbiasa dengan bantuan waktu. Akhirnya dia akan tersadar jika memang akan seperti itu. Dia hanya perlu membuat dirinya terbakar dengan perlahan hingga dirinya ikut memudar dalam uap cerita itu.  

Komentar

Postingan Populer